Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 25

 

Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata, “Inilah rezeki yang telah diberikan kepada kami dahulu”, dan akan diberikan kepada mereka yang serupa. Dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci [36], dan mereka akan kekal di dalamnya [37].


[36] Al-Quran mengajarkan bahwa setiap makhluk memerlukan pasangan untuk perkembangannya yang sempurna. Di sorga orang-orang muttaqi laki-laki dan perempuan akan mendapat jodoh suci untuk menyempurnakan perkembangan rohani dan melengkapkan kebahagiaan mereka. Macam apakah jodoh itu, hanya dapat diketahui kelak di akhirat.

[37] Ayat ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali, tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat sorgawi. Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (As-Sajdah 32:18). Rasulullah saw diriwayatkan pernah bersabda, "Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya" (Bukhari). Dengan sendirinya timbul pertanyaan, mengapa nikmat-nikmat sorga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu. Maka itu al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.

Dalam menggambarkan karunia Ilahi, al-Quran telah mempergunakan nama benda yang pada umumnya dipandang baik di bumi ini dan orang-orang mukmin diajari bahwa, mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan datang. Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah, maka dipakainya kata-kata yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi.
Tambahan pula menurut Islam, kehidupan di akhirat itu tidak rohaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan rohani. Bahkan dalam kehidupan di akhirat pun, ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh, tetapi tubuh itu tidak bersifat benda.

Orang dapat membuat tanggapan terhadap keadaan itu dari gejala-gejala mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau rohani belaka, sebab dalam keadaan itu pun ia mempunyai jisim dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan, dan minum susu.

Sukar mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Susu yang dinikmati dalam mimpi tak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa minuman itu susu biasa yang ada di dunia ini dan diminumnya. Nikmat-nikmat rohani kehidupan di akhirat bukan berupa, hanya penyuguhan subyektif dari anugerah Tuhan yang kita nikmati di dunia ini. Apa yang kita peroleh di sini malahan, hanya gambaran anugerah nyata dan benar dari Tuhan yang akan dijumpai orang di akhirat.

Tambahan pula "kebun-kebun" itu gambaran iman, dan "sungai-sungai" adalah amal saleh. Kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur tanpa sungai-sungai, begitu pula iman tidak akan dapat segar dan sejahtera tanpa perbuatan baik (amal saleh). Maka iman dan amal saleh tak dapat dipisahkan, untuk mencapai najat (keselamatan).

Di akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang mukmin akan imannya dalam kehidupan ini, dan sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal salehnya. Maka ia akan mengetahui bahwa iman dan amal salehnya tidak sia-sia.

Keliru sekali mengambil kesimpulan dari kata-kata, "inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu", bahwa di sorga orang-orang mukmin akan dianugerahi buah-buahan semacam yang dinikmati mereka di bumi ini, sebab seperti telah diterangkan di atas keduanya tidak sama. 

Buah-buahan di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya, mereka segera akan mengenali dan ingat kembali bahwa buah-buahan itu adalah hasil imannya di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu, mereka akan berkata, "inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu". Ungkapan ini dapat pula berarti, "apa yang telah dijanjikan kapada kami".
Kata-kata "yang serupa" tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang mukmin di bumi ini, dan buah atau hasilnya di sorga. Amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang mukmin sebagai hasil atau buah akhirat. Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di sorga, dan makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya.

Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan yang dikehendakinya, terletak pada kekuatannya sendiri. Ayat ini berarti pula bahwa makanan rohani orang-orang mukmin di sorga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan rohaninya masing-masing.

Kata-kata "mereka akan kekal di dalamnya" berarti bahwa orang-orang mukmin di sorga tidak akan mengalami sesuatu perubahan dan kemunduran. Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. tetapi karena makan sorgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai, maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap.

Orang-orang mukmin akan juga mempunyai jodoh-jodoh suci di sorga. Istri yang baik itu bersumber kegembiraan dan kesenangan. Orang-orang mukmin berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian, kesenangan di sorga tidak bersifat kebendaan. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat sorga lihat pula tafsir surah Ath-Thur, Ar-Rahman dan Al-Waqiah.

(Sumber: Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat (Terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1997), Edisi. III, Juz. 1-10, Hal. 34-36)

0 komentar:

Poskan Komentar