Apakah Ahmadiyah Itu?

Akhir-akhir ini penentangan terhadap Ahmadiyah di Nusantara tercinta ini semakin keras. Bermula dari penyerangan salah-satu ormas Islam ke pusat Jemaat Ahmadiyah di Parung-Bogor, tahun 2005. Hingga penyerbuan brutal di tahun 2011 yang menewaskan tiga orang Ahmadi di Cikeusik, Pandeglang-Banten. Kebencian beberapa ormas Islam terhadap Ahmadiyah semakin tidak terarah tatkala mereka membakar dan menghancurkan Masjid yang merupakan tempat ibadah umat Islam. Bukan hanya itu mereka pun berani membakar al-Quran,
kitab sucinya mereka sendiri, hanya karena kitab tersebut berada di Masjid yang dibangun Jemaat Ahmadiyah. Kami tidak habis pikir, kenapa saudara-saudara kita dari beberapa oramas Islam itu sebegitu bencinya kepada kami?.

Bukankah nabi kita saw, sering mengajarkan bahwa umat Islam itu seperti satu tubuh, jika ada salah satu organnya yang sakit, maka bagian lainnya ikut merasakannya. Namun mengapa mereka malah menyakiti salah satu organ tubuh tersebut. Apakah kebencian itu telah sedemikianrupa, sehingga tidak ada sedikit pun rasa iba yang mereka miliki? Janganlah kebencian kepada suatu kaum atau kelompok membuat kita berlaku tidak adil dan semenah-menah[1]. Bukankah Allah SWT menciptakan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan berfirqah-firqah agar kita saling mengenal dan menghormati satu sama lain[2].

Beberapa saudara kami dari ormas Islam, beralasan bahwa kami bukan bagian dari Islam. Mereka pun bersikukuh agar kami keluar dari Islam dan mendirikan agama lain. Demi Allah, di sini kami bersumpah bahwa kami muslim. Kami mendirikan shalat lima waktu sebagaimana umat Islam lainnya. Arah kiblat kami pun tidak bergeser dari ka’bah baitullah. Kami membayar zakat, berpuasa ramadhan sebulan lamanya, dan menunaikan haji ke Mekkah Al-Mukaramah. Satu lagi yang perlu diperhatikan bahwa kami tidak memiliki syahadat lain, selain:
Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadur-rasulullah
(“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah”)

Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang sesempurna Islam. Sehingga untuk menunjukan kesempurnaannya, Allah SWT secara khusus menempatkannya di salah satu surah dalam a-Quran[3]. Bagaimana kami harus berpaling dari agama yang Allah SWT sendiri menyanjung, mengakui dan meridhainya?

Sungguh! Di dalam dada kami hanya ada satu agama, Islam. Sedikit pun kami tidak bergeser dari pendirian itu. Keluar saja ungkapan selain laa ilaaha illallah muhammadur-rasulullah dari bibir kami, maka haram hukumnya bagi kami. Apa yang kami ucapkan ini bukanlah sebuah bentuk kepura-puraan. Tidak terpintas dibenak kami untuk melakukan hal itu. Allah SWT yang mengetahui kesungguhan atas apa yang kami pikirkan dan ucapkan. Seseorang tidak berhak menuduh bahwa ucapan kami tersebut tidak sesuai dengan hati kami. Rasulullah saw pernah memarahi Usamah bin Zaid ra, ketika membunuh musuhnya yang mengucapkan syahadat. Usamah beralasan, orang itu hanya ingin mencari keselamatan. Maka Rasulullah saw pun berang, beliau pun bersabda:
Alaa syafaqta ‘an qalbihi
(“Mengapa engkau tidak sekalian saja membelah hatinya untuk melihatnya”)[4].

Jika saudara-saudara dari ormas Islam tetap menuduh kami bukan muslim, dengan alasan syahadat serta ibadah kami hanya sebuah bentuk kepura-puraan, artinya mereka telah mensejajarkan diri mereka sama dengan Allah SWT. Karena urusan hati mutlak milik Allah Ta’ala dan hanya Dia sendiri yang tahu. Tidak ada seorang manusia pun yang mampu mengetahui isi hati orang lain, tidak juga seorang rasul. Kami tetap bertahan pada pendirian bahwa kami muslim. Jemaat kami adalah Jemaah Islam. Kami beriman dan meyakini sepenuhnya bahwa:
1.    Allah itu ada, Allah itu Esa. Dia adalah Zat yang suci dan bersih dari segala keaiban. Dia dekat dan selalu mengabulkan semua hambanya yang berdoa[5].
2.    Kami meyakini jika semua malaikat adalah makhluk Allah SWT. Mereka melaksanakan apapun yang diperintahkan Tuhan dengan keikhlasan[6].
3.    Kami juga meyakini dan beriman kepada semua kitab suci. Karena kami percaya dengan sepenuh hati bila kitab-kitab itu datang dari Allah SWT. Dan kami sepenuhnya beriman dan berpedoman kepada al-Quran, karena untuk masa kini tidak ada lagi kitab yang lebih sempurna dan terjaga dari pada al-Quran[7].
4.    Kami mempercayai jika para nabi merupakan utusan Allah SWT sebagai nadzir, pemberi peringatan. Mereka dibangkitkan ditengah-tengah kaum mereka untuk membimbing umat mereka[8]. Dan kami meyakini, hanya Muhammad saw saja lah yang dibangkitkan bukan hanya untuk umat beliau saw tapi juga untuk seluruh umat dari seluruh bangsa.
5.    Kami pun yakin sepenuhnya jika sesudah manusia mati, ia akan dibangkitkan lagi. Dan seluruh amal perbuatannya akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat nanti[9].
6.    Kami juga meyakini bahwa Allah SWT akan senantiasa memperlihatkan dan memberlakukan takdir-Nya. Bukan hanya yang berupa Kodrat, namun juga takdir khas, yang dengan takdir tersebut Allah SWT hendak memperlihatkan kekuasaan dan Kebesaran-Nya.

Semua itu merupakan keyakinan dan keimanan kami. Tidak sedikit pun kami bergeser dari aqidah tersebut. Apakah keyakinan tersebut berbeda dengan umat Islam lainnya? Benarkah semua keyakinan itu belum cukup untuk membuktikan bahwa kami orang Islam?. Tidak ada perbedaan aqidah antara kami, orang-orang Ahmadiyah dengan umat Islam seluruhnya. Karena kami yakin sepenuhnya jika yang kami pegang teguh dan amalkan ini sama dengan yang diyakini dan diamalkan seluruh umat Islam di dunia. Lalu apa perbedaannya, sehingga banyak alim-ulama dan lainnya begitu terhina dengan keberadaan kami?

Mungkin yang membedakan kami, Ahmadiyah dengan umat Islam pada umumnya terletak pada perbedaan pemahaman dan penafsiran. Perbedaan pemahaman dan penafsiran mengenai beberapa hal, seperti sabda Rasulullah saw mengenai; Kedatangan Imam Mahdi, Kebangkitan Nabi Isa di akhir zaman; Siapa sebenarnya sosok nabi Isa yang datang tersebut? dan Kemunculan Dajjal. Kemudian perbedaan penafsiran dalam al-Quran surah mengenai kandungan makna surah al-Ahzab 33:41, tentang kata “Khataman-Nabiyyin”.


[2] Al-Hujrat 49:13
[3] Al-Maidah 5:3
[4] Musnad Ahmad bin Hanbal.
[5] Al-Baqarah 2: 187
[6] An-Nahl 16: 51
[7] Al-Hijr 15:9
[8] Fathir 35:25
[9] Al-Mu’minun 23: 15-16

13 komentar:

  1. (“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah”)
    Klu anda mengakui Muhammad SAW, anda sebenarnya tau klu Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Akhir Zaman,kenapa anda mengakui Mirza Ghulam Ahmad sbg Nabi?..........sungguh ta` masuk akal bos

    BalasHapus
  2. http://ogiexslasher.blogspot.com/2009/12/sakaratul-maut-nabi-palsu-ahmadiyah.html

    BalasHapus
  3. jangan mengaku bagian dari islam kalau masih menggap mirja gulam ahmad itu nabi karena sudah jelas dalam islam nabi yang terkhir itu muhammad bukan ahmadiya jadi kalau kalau sudah beda akidah berarti itu tidka ada toleransi seperti berbedanya fiqih ibadah.

    BalasHapus
  4. Sebelum berbicara mengenai kdudukan Mirza Ghulam Ahmad, saya ingin tanya apakah saudara mughi percaya dengan kedatangan nabi Isa diakhir zaman?

    Kuncinya adalah disitu, yaitu nabi Isa akhir zaman tersebut. Rasulullah saw pernah bersabda bahwa nabi Isa akan turun kembali diakhir zaman. Beliau saw pada satu tempat bahkan pernah mengatakan bahwa bagaimana umatku akan terpecah jika aku diawal, Isa diakhir dan Mahdi di tengah.

    Sekarang yang harus dikaji adalah siapa sosok nabi Isa yang akan turun di akhir tersebut? Apakah nabi Isa pendiri agama nasrani?

    Jika anda berkeyakinan bahwa yang turun di akhir zaman itu adalah nabi Isa pendiri agama nasrani, maka tidak masuk akal sebab Allah swt berfirman, "kulu nafsin dzaikatul maut" bahwa setiap yang hidup di muka bumi itu pasti mati.

    Karena seluruh makhluk itu pasti dan harus mati, kenapa nabi Isa pendiri agama nasrani tidak mati? bukannya hal tersebut bertentangan dengan firman-Nya.

    Lalu jika nabi Isa pendiri agama nasrani itu sudah mati, siapakah nabi Isa yang disebut Rasulullah saw akan turun di akhir zaman itu?

    Ini yang harus dikaji. Nah, kami (ahmadiyah) berkeyakinan nabi Isa di akhir zaman tersebut adalah sosok lain yang memiliki sifat dan karakter seperti nabi Isa pendiri agama nasrani.

    Nabi Isa akhir zaman itu haruslah salah satu dari umat nabi Muhammad saw, karena kedatangannya untuk menghidupkan ajaran Islam dan mengembalikan Syariat pada posisinya.

    Jadi nabi Isa akhir zaman bukan dari agama lain atau umat dari agama lain, karena yang mengetahui Islam pastilah umatnya sendiri.

    Hz. Mirza Ghulam Ahmad as, kami percayai sebagai Nabi Isa akhir zaman tersebut. Beliau adalah Nabi isa akhir zaman yang dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah saw.

    Persoalan, apakah yang lain percaya atau tidak, kita kembalikan kepada keyakinan masing-masing. Karena sebuah keyakinan tidak bisa dipaksakan (surah Yunus 10: 100).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hartono Ahmad jaiz pernah bertanya kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali ke Islam. “Apakah benar, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India 15 Februari 1835 dan mati pada 26 Mei 1906, itu matinya di kakus (WC)?”

      Kemudian Dr. Hasan bin Mahmud Audah pun menjawab,“Ha…, ha…, haa… itu tidak benar. Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa ke WC. Dia meninggal di tempat tidur. Tetapi berminggu-minggu sebelum matinya dia berak dan kencing di situ. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti WC. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Makanya, tanyakanlah kepada orang Ahmadiyah, maukah kamu mati seperti nabimu?”

      Dr Hasan bin Mahmud Audah adalah mantan Muballigh Ahmadiyah dulunya dekat dengan Thahir Ahmad (Khalifah Ahmadiyah) yang mukim di London. Pertanyaan di atas diajukan Hartono Ahmad Jaiz seusai berlangsungnya Seminar Nasional tentang Kesesatan Ahmadiyah dan Bahayanya yang diselenggarakan LPPI di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad 11 Agustus 2002.

      Selain masalah kematiannya yang menjijikkan, Mirza Ghulam Ahmad menurut Audah punya dua penyakit: jasmani dan akal. Sakit jasmaninya sudah jelas, berminggu-minggu menjelang matinya tak bisa beranjak dari tempat tidur, hingga kencing dan berak di tempat tidurnya.

      Adapun sakit akalnya, Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi Maryam, lalu karena Allah meniupkan ruh kepadanya, maka lahirlah Nabi Isa. Dan yang dimaksud dengan Nabi Isa itu tak lain adalah diri Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri. “Apakah tidak sakit akal itu namanya,” ujar Dr Hasan Audah yang dulunya mempercayai Mirza Ghulam Ahmad, sehingga sempat membeli sertifikatkuburan surga di Rabwa.

      Hapus
    2. Anonim, apakah anda juga percaya Nabi Muhammad SAW mati terlaknat mati diracun oleh wanita Yahudi yg dikisahkan org2 Yahudi anti-Islam ?

      Hapus
  5. mas.... nabi Isa AS tuh turun nya pas mau kiamat nanti... sedangkan si mirza itu sampe akhir hayat nya gag kiamat2... apa masih tetep bersikukuh nyebut dia tu nabi Isa AS seperti yang telah di katakan???????&*%#$@*! otak nya di taro di mana mas? soal keyakinan udah jelas ga masuk akal masih tetep di yakinin???

    BalasHapus
  6. to anonim
    aduh ilmu anda tentang kiamat masih sangat minim, untuk apa Nabi Isa Turun kalau dunia pas mau kiamat, apa Dia hanya menyaksikan orang-oorang dihancurkan lalu gilirannya berikutnya. nabi Isa as yang dulu sudah wafat mas...baca tafsirnya HAMKA

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampai kiamatpun nggak akan berakhir kalau keyakinan jadi perdebatan dan selalu menganggap bila orang lain yang menjalankan keyakinan kepada YANG MAHA KUASA tidak sama dengan cara kita, karena benar/tidaknya suatu keyakinan dalam menyembah YANG MAHA KUASA hanya YANG MAHA KUASA lah yang tahu. MANUSIA MANAPUN TIDAK AKAN BISA MENILAINYA.KARENA ITU HAK YANG MAHA KUASA. DAN SETIAP ORANG AKAN MEMPERTANGGUNG JAWABKAN SENDIRI-SENDIRI DIHADAPAN SANG MAHA KUASA

      Hapus
    2. Kitab suci Al-Qur'an secara jelas mengatakan bahwa nabi Isa, belum wafat,namun diangkat ke sisi Allah SWT, sedangkan yang dikira sudah mati ditiang salib (dan disebut sebagai Jesus oleh orang Nasrani) adalah orang yang oleh Allah SWT diserupakan dengan nabi Isa. Kalau kita tidak mempercayai ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an yang sudah sangat jelas,apakah kita berhak mengaku sebagai umat Islam?

      Hapus
  7. bismillahirrohmaa nirrohim...

    Sebagai karya cipta manusia –bukan kitab suci– yang dicampuradukkan dengan sisa-sisa ayat Allah yang tak lagi bisa dipastikan bagian mana yang masih orisinil, Injil sekarang ini berisi berbagai kepalsuan, termasuk keyakinan bahwa Isa Al-Masih itu mati dibunuh, disalib, sebagai penebus dosa. Keyakinan mereka itu dibantah keras dalam Al-Quran:

    Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
    Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.(An-Nisa : 157-159)

    nabi isa 'alaihissalam belum wafat...dia di angkat oleh Allah subhanahuwata'ala ke langit,,dan akan turun untuk menghancurkan Dajjal dan pasukannya..

    Taubatlah wahai saudaraku SUNDAKELANA sebelum ajjal menjemputmu... na'uzubillah...

    BalasHapus
  8. Nabi Isa memang belum wafat krn memang diangkat ke langit oleh Allah yang Maha Kuasa untuk melakukan apapun yang dikehendakinya, kelak Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa di masa akhir zaman antara lain untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia bahwa agama Islam yang disampaikan melalui nabi Muhammad SAW adalah yang benar dan diridhoi Allah SWT.Jadi kalau dikatakan bahwa nabi Isa tidak mati.itu tidak benar,yang benar adalah beliau belum mati alias ditangguhkan kematiannya oleh Allah SWT.Karena itu tolong dicamkan bahwa penganut Islam yang mengerti agamanya tidak akan pernah mengatakan bahwa nabi Isa itu sudah mati,hanya orang-orang Nasrani yang berpendapat begitu.

    BalasHapus