Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 26

 

Sesungguhnya Allah tidak segan mengemukakan suatu perumpamaan[38] sekecil nyamuk[39] atau yang lebih dari itu[40]. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, dan adapun orang-orang yang ingkar berkata, “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Sebenarnya dengan ini banyak yang Dia nyatakan sesat[41] dan dengan ini juga banyak yang Dia beri petunjuk dan tiada yang Dia nyatakan sesat dengan itu kecuali orang-orang durhaka.


[38] Dharaba al-matsala berarti ia memberi gambaran atau pengandaian, ia membuat pernyataan, ia mengemukakan perumpamaan (Lane, Taj dan Surah Ibrahim 14:46)

[39] Tuhan telah menggambarkan sorga dan neraka dalam al-Quran dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan. Perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan jalan lain, dan dalam hal-hal kerohanian perumpamaan-perumpamaan serta tamsilan-tamsilan tersebut agaknya memberikan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan buah pikiran dengan baik. Kata-kata yang dipakai untuk menggambarkan sorga, mungkin tidak cukup dan tidak berarti bagaikan nyamuk yang dianggap oleh orang-orang Arab sebagai makhluk yang lemah dan memang pada hakikatnya demikian. Orang-orang Arab berkata Adh 'afu min ba'udhatin artinya ia lebih lemah dari nyamuk. Meskipun demikian perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan itu membantu untuk memunculkan dalam angan-angan, gambaran nikmat-nikmat sorga tersebut. Orang-orang mukmin mengetahui bahwa kata-kata itu hanya perumpamaan dan mereka berusaha menyelami kedalaman artinya, tetapi orang-orang kafir mulai mencela perumpamaan-perumpamaan itu dan makin bertambah dalam kesalahan dan kesesatan.

[40] Fauq berarti dan bermakna "lebih besar" dan "lebih kecil" dan dipakai dalam artian yang sesuai dengan konteksnya (letaknya atau ujung pakalnya). (Mufradhat)

[41] Adhallahu berarti: 
(1) Tuhan menetapkan dia berada dalam kekeliruan.
(2) Tuhan meninggalkan atau membiarkan dia sehingga ia tersesat (Kasysyaf).
(3) Tuhan mendapatkan atau meninggalkan dia dalam kekeliruan atau membiarkan dia tersesat (Lane).

(Sumber: Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat (Terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1997), Edisi. III, Juz. 1-10, Hal. 36-37)

0 komentar:

Poskan Komentar