Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 3

 
Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib[6] dan tetap mendirikan shalat[7] dan dari apa-apa yang telah Kami rezekikan[8] kepada mereka, mereka membelanjakan.


[6] Al-ghaib berarti sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak, sesuatu yang tak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab). Tuhan, para malaikat dan Hari Kiamat itu semuanya al-ghaib. Lagi pula kata yang digunakan dalam al-Quran tidak berarti hal-hal yang hayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya, meskipun tak nampak (32:7; 49:19). Maka, keliru sekali menyangka, seperti dikira oleh beberapa kritikus al-Quran dari Barat, bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta. Kata itu berarti hal-hal yang, meskipun di luar jangkuan indera manusia, dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tiada dari hal-hal "gaib" yang orang muslim diminta agar beriman kepadanya itu diluar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang, meskipun tak nampak, terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tidak seorang pun dapat menolak kehadiran benda-benda itu.

[7] Anak kalimat, mendirikan shalat berarti, mereka melakukan shalat dengan segala syarat yang ditetapkan; aqama berarti ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan yang tepat (Lane). Beribadah itu ungkapan lahiriah dari perhubungan batin manusia dengan Tuhan. Tambahan pula karunia Tuhan itu meliputi baik badan maupun ruh. Maka ibadah yang sempurna itu ialah saat jasmani dan rohani keduanya sama-sama berperan. Tanpa keduanya, jiwa sejati ibadah itu tidak dapat dipelihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya dan pemujaan badan itu hanya kulitnya saja, namun isi, tidak dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulitnya binasa, isinya pun pasti mengalami nasib yang sama.

[8] Rizq berarti sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, baik anugerah itu bersifat kebendaan atau selain itu (Mufradat). Ayat itu menentukan tiga petunjuk dan menjelaskan tiga tingkatan kesejahteraan rohani manusia;
a. pertama, ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan di luar jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan demikian yang menunjukan bahwa ia mempunyai ketakwaan sejati.
b. kedua, bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya dan bila, sebagai hasil dari renungan itu, ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menjadikan, maka suatu hasrat yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai perhubungan nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat itu terpenuhi dengan mendirikan shalat.
c. ketiga, akhirnya ketika orang beriman itu berhasil menegakan perhubungan yang hidup dengan Khalik-nya, ia merasakan adanya dorongan batin, untuk berbakti kepada sesama manusia.

(Sumber: Tafsir Ahmadiyah (Terbitan Jemaat Ahamdiyah Indonesia, 1997) Edisi. III, Juz. 1-10, hal. 22-23)

0 komentar:

Poskan Komentar