Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 2


Inilah[2] Kitab yang sempurna[3] tidak ada keraguan[4] di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa[5]


[2] Dzalika terutama dipakai dalam arti "itu", namun kadang-kadang kata tersebut digunakan juga dalam arti "ini" (Aqrab). Kadang-kadang kata tersebut juga dipakai untuk menyatakan pangkat tinggi dan kemuliaan wujud yang dimaksud. Di sini, kata tersebut mempunyai arti bahwa Kitab ini seolah-olah jauh dari pembaca, ditilik dari segi faedahnya yang luar biasa dan agung (Fatih).

[3] Al dipakai untuk menyatakan suatu tujuan pasti yang diketahui oleh pembaca. Dalam arti ini kata dzalikal-kitab mempunyai arti inilah Kitab atau inilah Kitab itu yaitu kitab yang dijanjikan itu. Kata al dipakai juga untuk menyatakan gabungan semua sifat yang mungkin ada pada seseorang. jadi, ungkapan itu berarti, inilah Kitab yang memiliki segala sifat luhur yang seyogyanya dimiliki oleh suatu Kitab yang sempurna, atau dapat juga ungkapan itu berarti hanya inilah Kitab yang sempurna.

[4] Raib berarti kegelisahan atau ketidak tentraman hati, keraguan, malapetaka atau bencana atau juga pendapat jahat, tuduhan palsu atau fitnah (Aqrab). Ayat ini tidak berarti bahwa tidak akan ada yang merasa ragu-ragu mengenai al-Quran. Ayat itu hanya mengandung arti bahwa ajarannya begitu masuk akal sehingga orang berfikir sehat yang menelaahnya dengan pikiran tidak berat sebelah dan tanpa purbasangka akan mendapatkannya sebagai petunjuk yang aman dan pasti.

[5] Muttaqi diserap dari kata waqa yang mempunyai pengertian menjaga diri terhadap apa-apa yang merugikan dan memudaratkan. Waqiyah berarti perisai dan ittaqa bihi (Muttaqi itu bentuk ism fa'il dari Ittaqi) berarti, ia menganggap dia atau sesuatu sebagai perisai (lane). Ubbay bin Ka'ab, sahabat Rasulullah saw yang kenamaan, tepat benar menerangkan kata taqwa dengan memisalkan muttaqi sebagai seorang yang berjalan melalui semak-semak berduri. Dengan segala ikhtiar yang mungkin ia menjaga agar pakaiannya tidak tersangkut dan sobek oleh duri-durinya (Katsir). Maka seorang muttaqi ialah orang yang senantiasa berjaga-jaga terhadap dosa dan menganggap Tuhan sebagai perisainya atau pelindungnya dan sangat hati-hati dalam tugas kewajibannya. Kata-kata, "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa" berarti bahwa petunjuk yang termuat dalam al-Quran tidak terbatas. Al-Quran membantu manusia mencapai taraf kesempurnaan rohai dan menjadikannya semakin layak mendapatkan rahmat Tuhan.

(Sumber: Tafsir Ahmadiyah (Terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1997), Edisi. III, Juz. 1-10, hal. 22-23)

0 komentar:

Poskan Komentar