Tafsir Surah Al-Fatihah Ayat 4




Pemilik[6] Hari[7] Pembalasan[8]


[6] Malik berarti majikan atau orang yang mempunyai hak atas sesuatu dan memiliki kekuasaan untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya (Aqrab)
[7] Yaum berarti waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenam atau mengandung arti masa sekarang (Aqrab)
[8] Din berarti pembalasan atau ganjaran, peradilan atau perhitungan, kekuasaan atau pemerintahan, kepatuhan, agama dan sebagainya (Lane)

Keempat sifat Tuhan yaitu “Rabbul ‘Alamin, Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Maliki yaumiddin” adalah sifat-sifat Tuhan yang pokok. Sementara sifat-sifat Tuhan yang lainnya fungsinya hanya sebagai penjelas atau semacam tafsiran dari ke empat sifat tersebut. Ke empat sifat  itu bagaikan empat buah tiang yang di atasnya terletak  singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa. Urutan letak ke empat sifat tersebut menegaskan bahwa Tuhan sedemikian rupa telah menampakan sifat-sifat-Nya kepada manusia.

1.    Sifat Rabbul ‘Alamin (Tuhan Sekalian Alam) mengandung arti bahwa seiring dengan diciptakannya manusia,  Tuhan pun telah menciptakan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan rohaninya.

2.    Sifat Ar-Rahman (Maha Pemurah) mulai berlaku setelah alat kemajuan dan perkembangan rohaninya itu telah tertanam, dan dengan perantaraan itu, Tuhan seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan rohaninya. Kemudian jika manusia memakai alat-alat yang dianugerahkan kepadanya itu secara tepat, sifat Ar-Rahim mulai berlaku untuk mengganjar amalannya.

3.    Sifat  Maliki yaumiddin (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia. Dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan. Sungguhpun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, proses pembalasan itu terus berlaku, bahkan dalam kehidupan ini juga dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia sering kali diadili dan diganjar oleh orang lain, para raja, para penguasa dan sebagainya. Oleh karena itu senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi pada Hari Pembalasan, kedaulatan Tuhan itu mandiri serta mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tidak ada ganjaran yang tidak adil.

Pemakaian kata Malik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa Tuhan tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Malik (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakan kasih sayang-Nya, kapan, dimana saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya. Dengan mengambil din dalam arti agama, maka Maliki Yaumiddin juga mempunyai arti Yang mempunyai waktu agama. Oleh karena itu kata-kata Yang mempunyai waktu agama akan berarti bahwa bila suatu agama sejati diturunkan, umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur maka nampaknya seolah-olah sekalian alam berjalan secara mekanis tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Pencipta dan Al-Malik.

0 komentar:

Poskan Komentar